KEUNIKAN ALAM JAWA TIMUR
Memasuki Pulau Kabaena
Setibanya di Pelabuhan Sikeli Pulau Kabaena, kita
akan disambut dengan sebuah fosil tulang ikan paus yang panjangnya
berukuran sekitar 20 meter dan lebarnya sekitar 3 meter. Bisa
dibayangkan besarnya ikan paus itu sewaktu masih hidup. Singkat cerita
dari warga sekitar, ini adalah Pulau Tokotu’a yang merupakan penduduk
asli dari Kerajaan Moronene. Dulunya ikan paus itu terdampar dengan
sendirinya di pulau ini, seakan mempersilahkan kepada seluruh warga
Tokotu’a untuk menyantapnya dan dijadikan sebagai stock makanan
hingga berbulan-bulan, agar tidak ada lagi warga Tokotu’a yang
kelaparan. Kemudian oleh pemangku adat menjadikan tulang belulang
tersebut disimpan hingga sekarang sebagai bukti nyata adanya ikan puas
di lautan Sultra.
Fosil Ikan Paus
Keramahan warga Tokotu’a terasa sangat bergema dan
memperkuat khasanah kecintaan mereka pada alamnya, inilah bentuk rasa
syukur atas nikmat dan anugerah Tuhan Yang Mahakuasa untuk pulau eksotis
penuh pesona. Dengan logat khas masyarakat lokal yang unik dan
bersahaja, bagaikan konsonan kata-kata pada setiap syair, menjadi nilai
tersendiri dari Tokotu’a. Bersilaturahmi bersama masyarakat Tokotu’a
menjadi hal yang mempererat tali persaudaraan antarsuku yang ada di
pulau ini. Tidak ada lagi perbedaan antara penduduk asli dan pendatang
yang kini bermukim di Pulau Kabaena. Persahabatan begitu terasa di sini
dan sangat kental menyatukan kopi dan susu. Walau tidak ada warung kopi
ataupun cafe di Pulau Kabaena, namun setiap bertamu di rumah
warga yang model aslinya adalah rumah panggung, kita akan disajikan air
panas dan makanan khas gula kelapa.
Salah satu yang menjadi khasan dari pulau eksotis penuh pesona ini adalah gula kelapa, saya menyebutnya Tokotu’a Sugar. Saya
berkesempatan diperlihatkan oleh warga bagaimana proses produksinya.
Gula yang diracik dari hasil saripati pohon enau, dicampur dengan kelapa
muda, kemudian dimasak dalam tempat khusus, selanjutnya dikeringkan
secara alamiah dan diselesaikan dengan membungkus hasil campuran itu
dengan daun pisang sebagai kemasannya. Proses yang begitu tradisional
namun penuh makna. “Tidak ada yang instan untuk mencapai hasil
maksimal, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan menjalani serta menikmati
proses. Kolaborasi dari bahan dan sumber yang berbeda dengan sistem
kerja sama yang baik dan konsisten tentunya akan menghasilkan produk
bercita rasa tinggi sebagai bentuk identitas”.
Gunung Saba Mpolulu Tertutup Awan
Tidak dapat dipungkiri keindahan dan kekaguman saya
yang luar biasa dari Pulau Kabaena. Penduduk yang bersahaja serta
pesona alam dan keunikan Tokotu’a akan menjadi potensi pariwisata dunia
yang wajib dieksplor dan dikelola secara konkret oleh pemerintah, baik
Kabupaten, Provinsi, maupun Pusat. Kunjungan selama empat hari tiga
malam menjadi catatan terpenting untuk merekomendasikan bahwa pulau
Kabaena adalah surga dunia. Potensi sumber daya alam dengan ekosistem
yang berlimpah ruah terhempas dipulau ini. Dari wisata laut, hutan,
gunung, goa, satwa, seni dan budaya, kuliner khas serta hasil bumi
berupa emas, nikel dan batu permata harus disikapi secara bijak sesuai
dengan kearifan lokal. Jangan sampai aktivitas pertambangan akan merusak
ekosistem yang sudah terbangun sejak berabad-abad dan berlangsung
secara alamiah selama ini, musnah oleh keserakahan beberapa pihak yang
tidak memikirkan kehidupan masa depan anak-cucu nantinya. Serta
menghancurkan pesona alam yang eksotis penuh etika dan estetika.
Pulau Kabaena menyimpan beraneka ragam panorama
pantai dengan hamparan batu-batuan permata yang berkilauan menghasilkan
warna kebiruan oleh sentuhan sinar matahari, kaya akan hutan mangrove
dengan berbagai jenis habitatnya, dan misteri bawah laut yang
mencengangkan. Di sekitar Pulau Kabaena terdapat pulau kecil bernama
Pulau Sagori yang hanya berjarak 2,5 mil dan dapat ditempuh dalam waktu
±25 menit dengan menggunakan perahu katinting (istilah lokal). Pulau
Sagori dicap juga sebagai segitiga bermuda di Indonesia. Karena
banyaknya kapal yang tenggelam di dasar laut yang sudah berusia ratusan
tahun mendiami bawah laut pulau yang ditumbuhi banyak pohon cemara.
Pulau Sagori
Dasar laut Pulau Sagori masih terdapat kapal yang diyakini berasal dari Cina, karena terdapat simbol mandarin berupa aksara pinyin
dan gambar naga yang terukir jelas pada kapal yang karam tersebut,
serta masih tersimpan harta karun berupa kerajinan gerabah seperti
keramik, piring, dan mangkuk antik yang menjadi produk khas dari
Kerajaan Cina. Juga ada kapal-kapal VOC Belanda serta beberapa kapal
angkutan dan kapal para nelayan yang tenggelam di Pulau Sagori. Semua
itu adalah peninggalan yang menjadi hayati dasar laut sebagai spot untuk berwisata diving yang sungguh mempesona dan menakjubkan.
Etika dan estetika alam yang ada di daratan
Tokotu’a memperkuat predikat bahwa pulau ini adalah surga dunia. Desa
Tangkeno merupakan daerah pegunungan dengan beberapa bagian anak gunung
dan perbukitan. Di sini terdapat Gunung Sangiawita yang sungguh
menakjubkan dengan suhu dingin dan sejuk menenteramkan hati dan
perasaan. Di sinilah tempat perwujudan sebenarnya akan makna EKSOTISME
yang dapat dirasakan seutuhnya. Kita akan merasakan betul tinggal di
dalam awan sembari menikmati pemandangan alam yang sulit untuk
diungkapkan dengan kata-kata. Dari bukit Sangiawita kita dapat melihat
secara langsung lautan lepas, permukiman warga Tokotu’a dan puncak
Gunung Saba Mpolulu yang merupakan salah satu gunung tertinggi di
Sulawesi Tenggara dengan ketinggian 1.800 meter dari permukaan laut.
Pendopo di Gunung Sangiawita
Balai Pertemuan di Bukit Sangiawita
Desa Tangkeno telah membuat Tokotu’a menjadi
destinasi primadona, karena adanya kawasan wisata yang sudah tertata
sopan menyesuaikan struktur alam dan kultur pegunungan. Di kawasan ini
terdapat pendopo tempat beristirahat, balai pertemuan, dan rumah adat
Tokotu’a yang sengaja dibuat oleh pemerintah setempat dan pemangku adat.
Tokotu’a seakan siap menyambut kedatangan para wisatawan, baik domestik
maupun mancanegara. Tujuan utama yang memaksa kita untuk datang ke sini
karena adanya Benteng Tuntutari yang unik dan berkesan, berada tepat di
puncak bukit Sangiawita. Dari benteng ini, kita dapat melihat secara
menyeluruh Pulau Kabaena dari seluruh arah. Baik itu Kabaena tengah,
utara, timur, selatan maupun barat. Benteng ini dibangun oleh warga
Tokotu’a hasil gotong-royong dari semua penjuru desa yang ada di Pulau
Kabaena, sebagai tempat persembunyian dan pertahanan terakhir penduduk
Tokotu’a dari marabahaya, serangan musuh, penjajah dan gerombolan yang
menjadi sejarah tersendiri bagi Pulau Tokotu’a.
Rumah Adat Tokotua
Pintu Gerbang Benteng Tuntutari
Permandian Air Panas Watungkoriu
Goa Watuburi
Pulau Kabaena adalah Tokotu’a. Kaya akan sumber
daya alam dan memiliki limpahan pesona alam dengan beragam panorama
alamiah dalam satu kawasan kepulauan sebagai hotspot destinasi yang eksotis bagi pariwisata Indonesia. Tokotu’a tetap memegang teguh etika walau memiliki nilai estetika yang menakjubkan.
0 komentar:
Posting Komentar