Budaya di Kamboja (Artikel Lengkap)
1. Sejarah Kebudayaan Kamboja
Masa
keemasan Kamboja adalah antara abad ke-9 dan ke-14 masehi dibawah
periode kerajaan Angkor, dimana pada saat itu merupakan kerajaan yang
kuat dan sejahtera yang berhasil menguasai hampir seluruh wilayah
daratan Asia Tenggara. Namun, kerajaan Angkor runtuh akibat perebutan
kekuasaan dan perang melawan kerajaan yang berada di dekatnya seperti
Siam dan Dai Viet. Banyak candi yang dibangun pada masa itu seperti
Bayon dan Angkor Wat masih ada hingga sekarang. Candi-candi tersebut
tersebar di Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam yang mengingatkan kita kepada kemegahan seni
dan budaya Khmer. Seni, arsitektur, musik, dan tarian yang ada di
Kamboja sekarang telah mendapat banyak pengaruh dari banyak kerajaan
lain seperti Thailand dan Laos. Efek dari kultur Angkor masih dapat
dilihat hingga kini di beberapa negara, kultur tersebut memiliki banyak
kedekatan dengan Kamboja sekarang.
2. Arsitektur dan Rumah di Kamboja
Arsitek
dan pemahat Kamboja membuat candi yang terbuat dari batu. Dekorasi
Khmer terinspirasi dari agama. Dewa-dewa dari agama Hindu dan Buddha
terukir pada tembok. Candi/kuil dibuat sesuai dengan aturan arsitektur
Khmer Kuno yang terdiri dari susunan candi biasa ditambah dengan satu
candi yang tampak mencolok ditengahnya, sebuah tembok, dan sebuah parit.
Motif Khmer menggunakan banyak dewa dari mitologi Buddha dan Hindu.
Contohnya seperti istana kerajaan di Phnom Penh yang menggunakan motif
garuda yang merupakan burung mitologi dalam agama Hindu. Hanya sedikit
bangunan yang tersisa sejak masa kerajaan Khmer. Yang tersisa hanyalah
bangunan religius yang terbuat dari batu seperti candi Angkor.
Dalam
kebudayaan modern Kamboja, sebuah keluarga biasanya tinggal di bangunan
berbentuk petak dengan ukuran bervariasi mulai dari 4 X 6 meter hingga 6
X 10 meter. Bangunan tersebut terbuat dari bambu. Rumah Khmer biasanya
berpanggung dengan ketinggian tiga meter diatas permukaan tanah untuk
melindungi isi rumah dari banjir. Tangganya terbuat dari kayu. Sebuah
rumah biasanya terdiri dari tiga ruangan yang dibatasi oleh bambu.
Ruangan depan dijadikan ruang tamu, ruangan kedua dijadikan kamar tidur
orangtua, dan ruangan ketiga dijadikan kamar tidur bagi putrinya yang
belum menikah. Anak laki-laki tidur dimanapun mereka mendapatkan tempat.
Anggota keluarga bersama tetangga bergotong-royong membangun rumah,
serta diadakan suatu upacara bagi rumah yang baru selesai dibangun.
Rumah bagi keluarga yang kurang mampu biasanya hanya terdiri dari satu
ruangan besar. Dapur biasanya terletak di belakang rumah. Kamar mandi
biasanya berada di sungai yang ditutupi oleh triplek. Kandang ternak
biasanya dibuat dibawah rumah. Rumah orang Tionghoa dan Vietnam di kota
maupun desa di Kamboja biasanya tidak berpanggung dan berlantai semen
atau keramik. Rumah kaum urban dan bangunan komersial biasanya terbuat
dari batu bata, beton, atau kayu.
3. Agama di Kamboja
Penduduk
di Kamboja didominasi oleh penganut agama Buddha dengan 90% populasi
menganut Buddha Theravada. Terdapat 1% populasi pemeluk agama Kristen
dan sisanya beragama Islam, atheis, atau penganut kepercayaan animisme.
Agama
Buddha telah ada di Kamboja sejak abad ke-5 masehi. Buddha Theravada
telah ada di Kamboja sejak abad ke-13 masehi dan kini telah dianut oleh
90% populasi di Kamboja.
Islam adalah agama yang
mayoritas dianut oleh kaum Cham (disebut juga Khmer Islam) dan minoritas
kaum Melayu di Kamboja. Berdasarkan data dari Po Dharma, terdapat
150.000 sampai 200.000 penduduk Muslim di Kamboja pada tahun 1975.
Semuanya menganut aliran Sunni.
Kristen dibawa ke
Kamboja oleh misionaris Katholik Roma pada tahun 1660. Pada tahun 1972,
terdapat sekitar 20.000 kaum Kristiani di Kamboja, kebanyakan dari
mereka adalah Katholik Roma. Berdasarkan statistik dari Vatikan, pada
tahun 1953, anggota Gereja Katholik Roma di Kamboja berjumlah 120.000.
Hal itu membuatnya menjadi agama terbesar kedua di negara ini. 50.000
diantaranya adalah orang Vietnam dan sisanya kebanyakan orang Eropa.
Berdasarkan sensus tahun 1962, terdapat 2.000 pemeluk agama Kristen
Protestan di Kamboja. Terdapat sekitar 20.000 pemeluk agama Kristen
Katholik di Kamboja dimana hanya 0,15% dari total populasi.
Terdapat
100.000 orang yang menganut aliran kepercayaan daerah. Seperti kaum
Khmer Loeu yang menganut animisme. Mereka menggunakan nasi, air, api,
batu, dll untuk melangsungkan ritual. Kaum ini biasanya menganggap tabu
beberapa objek dan praktek.
4. Kehidupan di Kamboja
4.1. Ritual Kelahiran dan Kematian di Kamboja
Kelahiran
bayi adalah saat yang membahagiakan bagi keluarga. Berdasarkan
kepercayaan tradisional, mereka (ibu dan bayi) akan dikurung karena
mereka sangat rentan terhadap dunia mistik. Seorang ibu yang meninggal
saat melahirkan bayinya dipercaya akan menjadi roh yang jahat. Dalam
masyarakat Khmer tradisional, wanita hamil dianggap tabu memakan
beberapa makanan dan harus menghindari beberapa situasi. Tradisi ini
masih berlangsung di pedesaan, namun mulai berkurang di daerah
perkotaan.
Kematian tidak dilihat dengan penuh
kesedihan disini; tetapi dilihat sebagai akhir dari sebuah hidup dan
merupakan awal dari kehidupan selanjutnya yang diharapkan akan lebih
baik dari sebelumnya. Kaum Khmer Buddha biasanya mengkremasi dan debunya
disimpan di dalam sebuah stupa di dalam candi. Bendera panji putih
dikibarkan—yang disebut “bendera buaya putih”—di luar rumah, yang
menandakan ada seseorang di dalam rumah tersebut yang telah meninggal.
Prosesi pemakaman dihadiri oleh biksu Buddha, anggota keluarga, dan
kerabat yang berduka. Suami/istri dan anaknya yang ditinggalkan berduka
dengan cara mencukur kepalanya dan mengenakan pakaian putih.
4.2. Masa Kecil dan Masa Remaja di Kamboja
Anak
kecil di Kamboja dirawat sampai usia dua atau empat tahun. Sampai usia
tiga atau empat tahun, anak diberi kasih sayang dan kebebasan. Permainan
anak-anak lebih menekankan pada sosialisasi atau kemampuan ketimbang menang atau kalah.
Kebanyakan
anak mulai bersekolah pada usia tujuh atau delapan. Ketika dia mencapai
usia ini, mereka harus mengetahui norma kesopanan, kepatuhan, dan
hormat kepada yang lebih tua dan kepada biarawan Buddha (biksu). Ayahnya
bertugas untuk mengontrol anaknya dan memberikan izin kepada anaknya.
Saat usia sepuluh tahun, anak perempuan membantu ibunya untuk
mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga; sedangkan anak laki-laki
tahu bagaimana menjaga ternak mereka dan mampu berladang bersama
laki-laki lain yang lebih tua.
Para remaja
biasanya bermain dengan temannya yang sesama jenis kelamin. Selama masa
remajanya, laki-laki biasanya menjadi pelayan di Wihara dan menjadi
calon biarawan, dimana hal itu merupakan suatu kehormatan besar untuk
orangtuanya. Orangtua memiliki wewenang penuh terhadap anaknya sampai
mereka menikah, dan orangtuanya tetap mengendalikan beberapa kontrol
saat pernikahan.
4.3. Pacaran, Perkawinan, dan Perceraian di Kamboja
Memilih
teman hidup adalah hal yang kompleks bagi laki-laki muda, dan itu
mungkin melibatkan tidak hanya orangtuanya dan temannya, tetapi juga
“mak comblang” dan Haora. Secara teori, perempuan dapat menolak
pasangan yang dipilih orangtuanya. Pola pacaran berbeda antara orang
Khmer di desa dan di kota; cinta yang romantis merupakan kebiasaan yang
ada di kebanyakan kota-kota besar. Laki-laki biasanya menikah antara
usia 19 sampai 25 tahun, sedangkan perempuan antara 16 sampai 22 tahun.
Setelah pasangan dipilih, masing-masing keluarga saling menyelidiki satu
sama lain untuk meyakinkan bahwa anaknya akan menikah bersama pasangan
yang memiliki keluarga yang baik. Di pedesaan, terdapat bentuk jasa
pengantin wanita; artinya, laki-laki muda bersumpah akan melayani ayah
tirinya dalam jangka beberapa waktu.
Pernikahan
tradisional adalah perayaan yang panjang dan berwarna. Dulunya, itu
berlangsung tiga hari, tetapi pada tahun 1980-an itu berlangsung selama
satu hari atau setengah hari. Pendeta Buddha melakukan upacara singkat
dan mengucapkan beberapa doa. Bagian dari perayaan ini melibatkan ritual
memotong rambut, mengikatkan kapas yang sudah dicelupkan ke dalam air
suci pada pergelangan tangan pengantin pria dan wanita, dan melewati
lilin yang ada di sekitar pasangan yang telah menikah serta memberkati
pasangan tersebut sebagai satu kesatuan. Setelah pernikahan, dilakukan
acara jamuan makan. Pasangan yang baru menikah secara tradisional akan
tinggal bersama keluarga istri dan mungkin akan tinggal bersama mereka
selama setahun, sampai mereka dapat membangun rumah baru.
Perceraian
adalah legal dan relatif mudah untuk dilakukan, namun hal ini tidak
umum dilakukan. Orang yang bercerai akan dilihat dengan beberapa
ketidaksenangan. Masing-masing pasangan akan mempertahankan properti
yang dia beli saat pernikahan, dan kepemilikannya akan dibagi menjadi
dua. Hak asuh anak biasanya akan diberikan kepada ibunya, dan kedua
keluarganya tetap menyumbang sejumlah uang untuk melanjutkan pendidikan
anaknya. Pria yang telah bercerai dia memiliki masa menunggu sampai dia
dapat menikah kembali.
Pada kenyataannya, hingga
kini mayoritas orang Kamboja yang telah menikah tidak memiliki akta
pernikahan yang legal. Walaupun pasangan tersebut telah menyelenggarakan
upacara dan pesta pernikahan. Tetapi mereka dianggap tidak menikah
secara legal. Begitu juga saat bercerai, mereka biasanya tidak
memerlukan surat gugatan cerai.
5. Pakaian di Kamboja
Pakaian
di Kamboja adalah salah satu aspek penting dari budaya di Kamboja. Mode
orang Kamboja berbeda-beda tergantung pada suku etnis dan status
sosial. Orang Khmer secara tradisional mengenakan syal kotak-kotak yang
disebut Krama. “Krama” membedakan orang-orang Khmer (Kamboja)
dengan tetangganya seperti orang Thai, orang Vietnam, dan orang Laos.
Syal tersebut digunakan untuk beragam fungsi seperti gaya, melindungi
dari matahari, dan sebagai pelindung (untuk kaki) saat mendaki pohon,
membantu menggendong bayi, sebagai handuk, atau sebagai sarung. Krama dapat dengan mudah diubah menjadi boneka untuk dimainkan anak-anak.
Kain tradisional yang dikenal sebagai Sampot,
adalah sebuah kostum yang terkena pengaruh dari India pada era Funan.
Pakaian Khmer telah berubah seiring dengan waktu dan agama. Pada masa
transisi dari era Funan ke era Angkor, terdapat pengaruh Hindu yang kuat
pada pakaian di Kamboja dimana orang-orang menyukai Sampot termasuk Sarong Kor (perhiasan) yang merupakan simbol agama Hindu.
Ketika
agama Buddha menggantikan agama Hindu, orang-orang Khmer mulai
mengenakan blus, kemeja, dan celana. Tentunya sesuai gaya Khmer. Orang
Khmer, termasuk rakyat dan keluarga kerajaan, berhenti memakai kerah
bergaya Hindu dan mulai mengadopsi syal yang telah diberi dekorasi.
Style ini populer pada periode Udong.
Perempuan Khmer biasa memilih warna yang pas untuk Sampot-nya berdasarkan hati nurainya sendir atau mengikuti trend yang ada.
Beberapa
orang Kamboja selalu memakai pakaian bergaya religius. Beberapa pria
dan wanita Khmer mengenakan bandul Buddha pada kalungnya. Fungsinya
adalah untuk menjaga dari roh jahat dan membawa keberuntungan.
Keluarga kerajaan biasa mengenakan pakaian yang mahal. Sampot masih digunakan dikalangan kerajaan. Kebanyakan mereka memilih Sampot Phamuong,
edisi baru dari sampot yang digunakan oleh orang Thai pada abad ke-17.
Sejak periode Udong, keluarga kerajaan mempertahankan kebiasaan mereka
dalam berpakaian. Mereka yang perempuan membuat pakaian yang sangat
atraktif. Para wanita selalu mengenakan penutup bahu tradisional yang
disebut sbai atau rabai kanorng.
Para penari mengenakan kerah yang disebut Sarong Kor di sekitar lehernya. Yang terpenting, mereka mengenakan gaun unik yang disebut Samprot sara-bhap
yang terbuat dari kain sutra yang dijahit dengan menggunakan benang
emas atau perak. Gaun tersebut mengkilap, dengan desain yang rumit, dan
berkelip-kelip saat penari tersebut bergerak. Penari juga menggunakan
sabuk yang diisi batu mulia. Banyak perhiasan yang digunakan oleh penari
wanita. Seperti anting-anting, sepasang gelang, hiasan pada mata kaki,
dll.
6. Kuliner di Kamboja
Kuliner
Khmer mirip dengan kuliner di negara-negara Asia Tenggara lainnya
terutama kuliner Thailand, Vietnam, dan Kamboja yakni menggunakan saos
ikan pada sup dan tumisan. Makanan yang terkenal pengaruh dari Tiongkok
seperti chha (Bahasa Khmer: tumisan) dan beragam jenis nasi
goreng. Makanan Tiongkok yang paling populer adalah “sup mie dengan nasi
dan daging babi”, mirip dengan phở, disebut kuy tieu. Hidangan yang mendapat pengaruh dari India kebanyakan menggunakan bahan kari. Banh chaew, kuliner Vietnam Bánh xèo versi Khmer, juga merupakan hidangan yang populer.
Kuliner Khmer terkenal akan penggunakan pharok-nya. Pharok adalah sejenis pasta ikan yang telah dipermentasi. Jika Pharok tidak digunakan, maka kapi dapat
digunakan. Kapi adalah sejenis pasta udang terfermentasi. Santan adalah
bahan baku dari berbagai jenis kari dan hidangan pencuci mulut Khmer.
Orang Kamboja biasanya menggunakan nasi dengan melati atau ketan.
Hidangan penutup biasanya menggunakan buah seperti durian. Hampir semua
makanan dimakan bersama semangkuk nasi. Cabai dipisahkan dari makanan
supaya dapat diisi sesuai selera.
7. Seni dan Sastra di Kamboja
7.1. Seni Rupa di Kamboja
Sejarah seni rupa
di Kamboja dapat dilihat dari jaman kuno. Seni di Kamboja mencapai
puncaknya saat periode Angkor. Seni dan kerajinan tradisional Kamboja
dapat berupa tekstil, tenunan, kerajinan perak, pahatan batu, keramik,
lukisan, dan layang-layang. Pada pertengahan abad ke-20, seni modern
muncul di Kamboja. Seniman mendapat dukungan dari pemerintah dan
wisatawan.
7.2. Musik di Kamboja
Antara
tahun 60-70an, penyanyi duet Sinn Sisamouth dan Ros Serey Sothea
mendapat banyak hit di negara ini. Setelah mereka meninggal, bintang
musik baru berusaha untuk membawa kembali musik. Musik Kamboja telah
mendapat banyak pengaruh dari budaya Barat.
Musik
tradisional Kamboja biasanya terdengar saat perayaan di pagoda, saat
mengadakan suatu ritual, atau sebagai musik teater. Musik ini dibunyikan
oleh beberapa alat seperti roneat ek (silofon utama), roneat thung
(seruling), kong vong touch dan kong vong thom (gong kecil dan besar),
sampho (gendang), skor thom (dua drum besar), dan sralai.
7.3. Tarian di Kamboja
Tari di Kamboja dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: tarian klasik, tarian daerah, dan tarian tidak resmi.
Tarian
klasik Khmer adalah bentuk tarian Kamboja yang hanya dipertunjukan
untuk kerajaan. Tarian ini memiliki banyak elemen dari tarian klasik
Thai. Pada pertengahan abad ke-20, tarian ini dipertunjukan kepada
publik dimana ini menjadi simbol dari kebudayaan Khmer. Dan
dipertunjukan saat ada kegiatan publik, liburan, dan untuk wisatawan
yang berkunjung ke Kamboja. Tarian klasik dikenal akan penggunaan tangan
dan kaki untuk mengekspresikan emosinya dimana terdapat sekitar 4.000
gerakan berbeda pada tarian ini. Tarian ini dikenal menjadi The Royal Ballet of Cambodia
(Tari Balet Kerajaan Kamboja) setelah ditetapkan menjadi warisan budaya
UNESCO pada tahun 1960-an. Cerita Ramayana memberi pengaruh kuat
terhadap tarian klasik Khmer dilihat dari gerakan dan alur cerita.
Tari
Apsara adalah tarian Khmer yang masih ada sejak era Angkor. Tarian ini
menarik wisatawan dan membuat budaya Khmer dikenal dunia. Tarian Apsara
dipromosikan oleh Norodom Buppha Devi dan menjadi salah satu simbol dari
Kamboja.
Tarian daerah Khmer memiliki gerakan
yang tidak seanggun tarian klasik Khmer. Penari mengenakan busana yang
sesuai dengan yang dia perankan seperti Chams, kepala suku, petani, dan
petani miskin. Tarian ini diiringi oleh musik yang dimainkan oleh
orkestra mahori.
Tarian tidak resmi Kamboja (atau
tarian sosial) ditarikan saat acara sosial. Macam-macam tariannya
termasuk Romvong, Rom Kbach, Rom Saravan, dan Lam Leav. Beberapa dari
tarian tersebut mendapat banyak pengaruh dari tarian tradisional Laos.
Tari Rom Kbach mendapat banyak pengaruh dari tarian klasik kerajaan.
Tarian lainnya yang mendapat pengaruh dari globalisasi adalah Cha-Cha,
Bolero, dan Madison.
7.4. Sastra di Kamboja
Tulisan
sastra pertama adalah dibuat pada masa Kerajaan Khmer. Biasanya tulisan
tersebut berisi tentang keturunan kerajaan, aturan keagamaan,
penaklukan wilayah, dan organisasi internal dalam kerajaan.
Dokumen
Khmer tertua adalah terjemahan dan ulasan teks Pali Buddhist pada
Tripitaka. Dokumen tersebut ditulis oleh bhiksu pada daum palem dan
tersimpan di biara.
Reamker (Bahasa Khmer:
Kemashuran Rama) adalah versi Kamboja dari Ramayana, sebuah epos India
yang sangat terkenal. Reamker tersusun dalam bentuk puisi dan tahapan
kisahnya diadaptasi dari gerakan tari yang ditarikan oleh seniman Khmer.
Reamker sering diadaptasi ke dalam teater tradisional Kamboja.
Kamboja
kaya akan karya sastra lisan. Terdapat banyak legenda, kisah, dan lagu
yang ada sejak jaman dulu dan tidak pernah ditulis sampai kedatangan
bangsa Eropa. Salah satu kisah yang terkenal adalah kisah tentang
Vorvong dan Sorvong (Vorvong dan Saurivong), sebuah cerita tentang dua
pangeran Khmer yang pertama kali dijadikan dalam bentuk tulisan oleh
Auguste Pavie. Warga Perancis ini mengklaim bahwa dia mendapatkan cerita
ini dari Paman Nip di Distrik Somrontong. Pada tahun 2006, cerita
Vorvong dan Sorvong diadopsikan ke dalam bentuk tarian oleh Balet
Kerajaan Kamboja.
Tum Teav, yang bisa
dibandingkan dengan cerita Romeo dan Juliet, adalah cerita yang paling
terkenal, berdasarkan dari puisi yang pertama kali ditulis oleh biarawan
Khmer bernama Sam. Kisah cinta tragis ini disetting pada era Lovek.
Cerita ini diceritakan diseluruh Kamboja sejak pertengahan abad ke-19.
Cerita ini telah diadopsi dalam banyak bentuk seperti lisan, sejarah,
literatur, teater, dan bahkan film. Tum Teav juga berperan dalam
pendidikan di Kamboja, contohnya adalah sebagai materi ujian bahasa
Khmer di kelas 12. Terjemahan menjadi bahasa Perancis pertama kali
dilakukan oleh Étienne Aymonier pada tahun 1880. Tum Teav populer di
luar negeri ketika penulis George Chigas menerjemahkan versi sastranya
yang ditulis pada tahun 1915 oleh biarawan Buddha terhormat Preah
Botumthera Som atau Patumatthera Som, yang juga dikenal sebagai Som,
salah satu penulis dalam bahasa Khmer yang terbaik.
Beberapa
anggota keluarga Kerajaan Khmer yang berbakat seperti Raja Ang Duong
(1841-1860) dan Raja Thommaracha II (1629-1634) telah menghasilkan karya
sastra yang bagus. Raja Thomaracha menulis puisi untuk orang Kamboja
yang lebih muda. Raja Ang Duong dikenal dengan novelnya yang berjudul
Kakey yang terinspirasi oleh cerita Jataka tentang seorang wanita yang
tidak setia. Kini, Kakey biasanya digunakan sebagai media pendidikan
untuk mengajarkan gadis Khmer tentang pentingnya kesetiaan.
7.5. Teater Bayangan (Wayang) di Kamboja
Pewayangan di Kamboja biasa disebut Nang Sbek atau Lakhaon Nang Sbek. Nang Sbek mirip degan Nang Yai di Thailand, Wayang di Malaysia
dan Indonesia khususnya yang berada di pulau Jawa dan Bali. Nang Sbek
mungkin berasal dari Indonesia atau Malaysia sejak berabad-abad yang
lalu. Seni ini mulai memudar seiring perkembangan hiburan modern.
Sebelum ada film, video, dan televisi, warga Khmer sering menikmati
pertunjukan wayang ini. Terdapat tiga macam teater bayangan di Kamboja:
- Nang Sbek Thom adalah seni yang melibatkan mimik, musik sebagai pengiring tarian, dan narasi.
- Nang Sbek Toch yang juga disebut Nang Kalum dan sesekali disebut Ayang. Menggunakan wayang yang lebih kecil dengan ruang lingkup cerita yang lebih luas.
- Sbek Paor menggunakan wayang yang berwarna.
7.6. Film di Kamboja
Sinema
di Kamboja dimulai sejak tahun 1950-an. Raja Norodon Sihanok sendiri
merupakan “pecandu” film. Banyak film yang ditayangkan di bioskop
diseluruh negara pada tahun 1960-an. Setelah rezim Khmer Rouge berakhir,
perkembangan industri film di Kamboja melemah karena persaingan dari
video dan televisi.
8. Olahraga di Kamboja
Olahraga
berkembang pesat di Kamboja sejak 30 tahun terakhir. Sepakbola dibawa
ke Kamboja oleh orang Perancis dan menjadi populer di Kamboja. Terdapat
beberapa seni bela diri seperti bokator, pradal serey (tinju khas Khmer)
dan gulat tradisional Khmer. Olahraga dari barat seperti voli,
binaraga, hoki, golf, dan baseball juga populer di Kamboja. Lomba
balapan termasuk lomba boat tradisional dan lomba balap kerbau. Phnom
Pehn National Olympic Stadium adalah stadion nasional dengan kapasitas
50.000 orang di Phnom Penh. Kamboja pertama kali mengikuti olimpiade
pada tahun 1956 dengan mengirimkan beberapa penunggang kuda. Kamboja
juga pernah menjadi tuan rumah GANEFO pada tahun 1960-an. GANEFO adalah
ajang olahraga internasional yang diciptakan Indonesia untuk memboikot
Olimpiade. Di Kamboja diadakan Festival Bonn OmTeuk, yaitu festival
balap perahu nasional yang diadakan setiap bulan November.
0 komentar:
Posting Komentar