Keunikan Bali Awalnya Dipromosikan Belanda
Keunikan Bali Awalnya Dipromosikan Belanda
Seorang
dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengemukakan, keunikan
seni budaya Bali yang kemudian menarik wisatawan dalam dan luar negeri,
pada awalnya dipromosikan oleh Belanda saat masa penjajahan.
"Bali
dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata pertama kali pada zaman
pemerintah kolonial Belanda di Indonesia sejak tahun 1920-an," kata
dosen ISI Denpasar Ni Made Ruastiti, di Denpasar, Minggu (8/8).
Ruastiti
mengatakan, Bali yang saat itu dikembangkan sebagai daerah tujuan
wisata memiliki potensi seni budaya yang sangat unik, selain panorama
alam yang tidak ada bandingannya. "Pemerintah kolonial Belanda saat itu
mempromosikan Bali ke negara-negara Eropa dan negara lainnya di belahan
dunia," ujarnya.
Sejak itu, lanjutnya, semakin banyak orang asing, terutama para budayawan, pelukis dan peneliti berkunjung ke Bali.
Hal
itu disusul semakin banyaknya orang asing berkunjung ke Bali, sehingga
kondisi itu menjadikan kehidupan masyarakat setempat mulai mengalami
perubahan ke arah yang lebih baik.
Menurut
Ruastiti, pendidikan sebagian warga masyarakat Bali melalui
sekolah-sekolah yang dibangun pemerintah kolonial Belanda secara
bertahap mampu memperluas wawasan tentang berbagai hal terkait dengan
kehidupan dan pariwisata.
Dengan
adanya peluang untuk mengenyam pendidikan menjadikan sebagian warga
masyarakat Bali ketika itu mulai mengubah pola pikirnya, dari irasional
menjadi rasional.
Kedatangan
wisatawan mancanegara ke Bali dimanfaatkan untuk meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan jasa
pariwisata, termasuk mengembangkan kesenian untuk disuguhkan kepada
wisatawan mancanegara.
"Semakin
ramainya wisatawan berkunjung ke Bali mendorong masyarakat setempat
lebih kreatif menciptakan sesuatu yang dapat `bernilai tukar`, bahkan
`nilai tukar` berkaitan erat dengan komoditi," ujarnya.
Menurut
Ruastiti, komoditi mempunyai nilai ganda, satu pihak mempunyai "nilai
pakai" dan pada pihak lainnya mempunyai "nilai tukar". Masyarakat Bali
dalam kaitan pariwisata lebih menekankan pada nilai ekonomis.
Hal
itu tercermin dari sikap masyarakat sejak ramainya wisatawan
mancanegara ke Pulau Dewata tampak lebih banyak memilih profesi yang
berkaitan dengan industri pariwisata, antara lain menjadi pemandu
wisata, merintis usaha biro perjalanan wisata, penyewaan mobil, rumah
tinggal, hotel dan menjual berbagai jenis cinderamata sebagai
kenang-kenangan wisatawan mancanegara pulang ke negaranya.
Ruastiti
menjelaskan, industri kreatif bagian dari ekonomi kreatif, sebagai
upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas.
Pembangunan
berkelanjutan merupakan suatu iklim perekonomian yang berdaya saing dan
memiliki cadangan sumberdaya terbarukan, seperti sektor pariwisata yang
belakangan berkembang pesat di Bali.
Konsep
industri kreatif jika dikaitkan dengan seni pertunjukan pariwisata akan
menunjukkan adanya kesinambungan pembangunan dalam bidang kesenian.
Seni
pertunjukan yang ditampilkan masyarakat Bali untuk kepentingan
pariwisata merupakan wujud industri kreatif masyarakat setempat dalam
mengembangkan kehidupan berkeseniannya yang dilakukan secara
berkesinambungan.
Hal
itu tercermin dari keberadaan seni pertunjukan pariwisata di Bali yang
sebagian besar, yang menurutnya merupakan kemasan pengembangan dari
bentuk-bentuk kesenian Bali. [EL, Ant]
0 komentar:
Posting Komentar